Kamis, 07 April 2016

Sedingin Es

Jantungnya berdegub kencang. Dia terlihat takjub. Tampak sebuah batu seukuran telur angsa berpendar keperakan di hadapannya. Suasana goa yang temaram turut menambah efek dramatis. Harta karun yang dicarinya selama ini telah berhasil ditemukan. Dia hanya perlu mengulurkan tangan meraih batu bertuah nan berharga yang dijuluki "Reruntuhan Musim Dingin" itu. Di saat biasa, dia pasti telah berteriak kegirangan. Entah mengapa kali ini suaranya tertahan. Mungkin kilau dari batu itu penyebabnya. Segera dibukanya tas lusuh yang sedari tadi telah tersampir di pundak.

Nafasnya tertahan, tangannya terjulur. Bisa dirasanya udara dingin menguar di sekeliling batu itu. Dia mulai menggenggamnya. Ya, ya, ini bukan batu biasa. Seakan batu tersebut hidup dan liar. Tangannya tersengat. Sengatannya begitu tajam. "Aaaahh…!"

Teriakannya kali ini tak tertahan dan dengan napas terengah dia terduduk di atas sebuah ranjang. Bersamaan dengan itu dia mengibaskan tangannya yang terasa basah. Benda seperti dadu yang sedikit cair baru saja terhempas ke lantai kamar. Es batu!

“Hahaha…” Terdengar suara tawa dari balik pintu kamar yang telah terbuka. Adiknya memang selalu punya cara jitu untuk membuatnya bangun. Pagi ini caranya dengan membuatnya menggenggam es batu.

sumber

Dia pun segera turun dari ranjang untuk melancarkan serangan balasan. Dia tidak rela mimpi indahnya tadi terputus begitu saja. Namun baru satu langkah, dia berhenti dan tertegun. Ada sesuatu yang mengintip dari dalam tas sekolahnya yang terbuka yang saat itu tengah tergeletak manis di lantai di salah satu sudut kamarnya. Sesuatu itu berkilau keperakan. Dia melangkah mendekati tasnya. Dengan tangan yang masih terasa basah, dia mengusap matanya. Jantungnya berdegub kencang. Dia terlihat takjub.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar