Kamis, 07 April 2016

Zombi Garet

Aku masih teringat kejadian siang tadi. Tentang pandangan sinis dari seorang perempuan tua di dalam bus yang kutumpangi. Pandangan sinis itu tertuju kepadaku. Pasalnya sepele banget. Dia tidak suka dengan asap rokokku. Ya, aku tadi merokok di dalam bus. Mulutku pahit dan aku perlu mengisi waktu sembari bus yang kunaiki ini ngetem.  Haha, dia pikir aku akan peduli dengan tatapan sinisnya itu. Persetan dengan kepedulian. Terserah mereka mau bilang aku perempuan yang tidak sopan, perempuan tidak benar. Tahu apa mereka tentangku. Tahu namaku pun tidak.

sumber

Dosen-dosen menyebalkan. Begitu banyak tugas yang mereka kasih. Selesai satu, datang lagi seribu. Niat hati sebenarnya ingin segera menyelesaikan tugas-tugas tersebut, namun kepala ini penat sekali rasanya. Di ruang keluarga, mereka sibuk bertengkar saja. Terlahir di keluarga broken home ini benar-benar membuatku stress nyaris gila. Untunglah di dunia ini ada yang namanya garet. Haha, garet selalu jadi pelarianku. Sudah 5 tahun aku bersahabat dengan garet, sejak kelas satu SMA dulu. Awalnya hanya coba-coba, aku mengambil sebatang garet punya Papa di atas meja. Aku menyalakannya dan menghirupnya. Awalnya tidak mengenakan, namun akhirnya aku ketagihan. Garet bisa menenangkan pikiranku.

***

Sial! Aku heran, kenapa aku bisa merasa seperti ini. Kata orang, ini namanya berbunga-bunga, ini yang namanya jatuh cinta. Rasanya seperti ada beribu kupu-kupu yang menggelitik perutku ketika berinteraksi dengannya. Rio, lelaki itu teman kampus dan dia bukan penghisap garet sepertiku. Dia tipikal anak lelaki yang baik, rapi, namun jujur dia menyenangkan. Beberapa hari belakangan ini dia sering mendekatiku, menanyakan hal-hal remeh seperti sudah makan? Jika kubilang belum, dia akan langsung menyeretku ke kantin dan kami pun makan bareng. Tidak, aku tidak boleh merasa cinta kepadanya. Perasaan cinta cuma akan membawa kesedihan menahun yang susah untuk hilang. Perasaan cinta itu sama dengan membawa diri kita ke tepi jurang lalu terjatuh ke dalamnya. Kedua orangtuaku contohnya. Huft! Aku benar-benar perlu menghisap garet sekarang.

***

Kali ini aku menghisap garet lebih banyak dari biasanya. Sudah lebih dari dua bungkus. Pikiranku kalut dan bingung sekali. Rio NEMBAK aku. Dan aku menerimanya. OMG!! Aku yang kupikirkan. Aku sudah membiarkan diriku jatuh ke jurang itu. Di satu sisi, jujur aku menginginkannya. Rio tidak kenal menyerah dan tulus memperhatikanku. Aku sayang Rio. Dan sekarang aku takut jika Rio tahu tentang kebiasaanku menghisap garet ini. Rio tidak seperti perempuan tua yang tidak kupedulikan apakah dia memandangku sinis atau malah membenciku gara-gara menghisap garet di dekatnya. Aku peduli dengan pendapat Rio, aku peduli tentang bagaimana dia memandangku. Aku pasti sudah benar-benar gila sekarang. Aku takut, tapi aku tidak mungkin menjauhi garet. Aku gak bisa..

***

Hampir dua tahun aku jadian dengan Rio. Dia bener-bener perfect buatku. Aku tidak mengerti, rasanya aku seperti kebanjiran hadiah padahal aku tidak pernah ikut undian apapun. Anyway, hari ini aku sidang skripsi. Bisa selesai juga aku ternyata. Rio mendampingiku sidang. Kata Rio, beberapa hari menjelang sidang ini aku terlihat lemah dan kadang pucat. Ya, kadang malah aku merasa susah menarik nafas. Rio tidak tahu tentang masalah pernafasanku ini, seperti halnya dia tidak tahu kebiasaanku menghisap garet ketika aku sudah berada di kamarku. Aku masih belum punya keberanian untuk mengaku. Kira-kira saat ini sudah hampir tujuh tahun aku bersahabat dengan garet. Dan ketika akhir-akhir ini Rio bertanya tentang kesehatanku yang sepertinya menurun, aku bilang saja kalau aku kelelahan mempersiapkan sidang. Iya, aku juga yakin kalau aku cuma kelelahan.

***

Aku menunggu Rio menjemputku. Dunia kerja cukup menyibukkan kami. Namun aku dan Rio selalu berusaha menjaga hubungan ini. Memanfaatkan waktu bersama yang ada sebaik mungkin. Well, Rio bilang, dia akan sedikit terlambat. Bagiku tidak masalah karena Rio memang jarang membuatku menunggu. Kuberniat mengisi waktu dengan bermain game di-smartphone-ku. Namun alih-alih menemukan smartphone di dalam tas, tanganku malah memegang si garet. Dan, aku tergoda untuk menghisapnya. Ahh, dari dulu, memang lebih enak menunggu sambil menghisap garet. Asap garetku mengepul naik bersama udara sore beranjak malam. Ketika sebatang habis, kuambil batang yang kedua dan kembali sibuk menghisapnya. Aku tak menyadari, Rio telah berada di dekatku. Refleks tanganku menyembunyikan garet ke belakang badan. Aku kikuk dan Rio memandangiku seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

***

Beberapa hari terakhir ini entah kenapa tubuhku terasa semakin melemah. Apa karena kesibukan di dunia kerja? Atau apa ini efek dari mencoba berhenti menghisap garet? Di malam itu, Rio menyatakan kekecewaannya kepadaku. Dia bertanya sejak kapan aku mengenal benda jahat itu, mengenal garet. Rio tidak membentakku atau marah-marah. Dia mengatakannya dengan sebaik dan selembut yang dia bisa. Airmataku menetes. Padahal saat orangtuaku memutuskan bercerai, aku tidak menangis. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa secengeng ini. Aku meminta maaf kepadanya dan merasa malu sekali. Rio memintaku berhenti menghisap garet. Aku menyetujuinya dan berjanji. Akhirnya aku harus memilih. Aku tidak mau kehilangan Rio.

Sudah sebulan lebih kucoba berhenti menghisap garet. Aku mencoba, jadi jangan bayangkan kalau aku sudah berhenti total. Tidak mudah lepas dari garet. Rasanya mood-ku lebih sering drop dan aku menjadi uring-uringan gak jelas. Aku perlahan mengurangi jumlah garet yang kuhisap per harinya. Benar-benar tidak mudah ditambah lagi kondisi tubuhku yang entah mengapa semakin melemah. Namun aku bertekad penuh untuk berhenti demi menepati janjiku ke Rio. Hingga suatu kali, aku pingsan di bilik kerjaku.

***

Aku terbangun dan perlahan mengenali jika aku tengah terbaring di rumah sakit. Tanganku terinfus. Rio duduk di samping ranjangku. Matanya terlihat menahan pedih. Dia bilang tidak ada yang serius namun aku tidak percaya. Aku pun mencoba menahan diri. Dua hari kemudian aku keluar dari rumahsakit. Dan sehari kemudian Rio baru memberitahuku kalau aku divonis dokter mengidap kanker paru stadium 4. Duniaku terasa runtuh.

Aku seolah berjalan memasuki dunia baru. Dunia zombi. Badanku semakin kurus, pucat dan lemah. Aku sudah pernah menjalani kemo yang pertama. Namun penyakit ini tak juga berkurang. Dokter pun bilang jika kanker stadium 4 bukan lagi tentang penyembuhan, hanya tentang perawatan. Ini tentang bagaimana mengurangi rasa sakit akibat kanker, dan bukan tentang bagaimana menyembuhkannya.

Rio (lagi-lagi) selalu ada untukku. Dia memperhatikanku, menemani pengobatanku sambil terus memotivasiku untuk bertahan. Seperti saat ini, dia duduk disampingku, disamping tubuh zombiku yang terbaring di ranjang rumah sakit. Aku baru selesai menjalani kemo yang kedua dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Aku menghela nafas dengan payah sembari berulangkali ku berpikir, hal baik apa yang pernah kulakukan sehingga ku dihadiahi seorang Rio di sisiku.

Mereka bilang aku zombigaret yang beruntung, namun bagiku keberuntungan adalah jika kubisa bertahan hidup lebih lama agar bisa terus bersama dengannya, orang yang kusayangi. Bahkan jauh sekali dalam benakku, keberuntungan itu adalah jika saja aku tidak berpikiran dangkal, mencoba yang namanya garet lalu jadi kecanduan karena stress, depresi atau apa pun itu.

Aku menyesal telah membiarkan diriku bersahabat dengan garet dan merasai hidup menjadi zombi seperti ini. Percayalah padaku, penyesalan ini terasa begitu pahit. Air mataku jatuh berkelotak seiring nafasku yang naik turun dengan perih. Rio memandangku dan menghapusi air mataku. Aku malu dengan Rio. Pun aku sangat malu dengan diriku. Entah sampai kapan zombigaret yang satu ini mampu bertahan. Garet bukan sahabat yang baik. Semoga hidupmu tidak sepertiku kawan.
----------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ini adalah fiksi yang kubuat  sekitar dua tahun lalu untuk diikutkan dalam suatu Giveaway. Namun, ini adalah draft awal dari apa yang kuikutkan. Maksudku, aku mengedit dan mengompres kata dalam fiksi ini agar sesuai dengan kriteria GA yang kuikuti.

Ini memang fiksi namun tidak ada dialog di dalamnya. Bukan fiksi yang baik, ya, haha. Aku juga tidak mengeditnya lagi. Terimakasih sudah membaca hingga kebaris ini. Semoga hari kalian menyenangkan. :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar